Inpex Butuh Dua Tahun Sosialisasi Pengembangan Blok Masela PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 21 August 2019 02:30

b_100_60_16777215_0___images_stories_berita_inpex.jpgPerusahaan minyak dan gas terbesar asal Jepang, Inpex Corporation membutuhkan waktu selama dua tahun

untuk menyosialisasikan berbagai kebijakan dan program pengembangan ladang Gas Abadi Blok Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, agar diketahui dan dipahami masyarakat secara luas.

“Sosialisasi kegiatan pengembangan Ladang Gas Blok Masela kepada masyarakat akan dilakukan selama dua tahun hingga memasuki waktu konstruksi pada 2022,” kata Vice President Corporate Services Inpex Masela, Ltd, Nico Muhyiddin di Ambon, Rabu (7/8/2019).

Menurutnya, sosialisasi dilakukan selain kepada pemerintah provinsi dan Pemkab Kepulauan Tanimbar juga kepada berbagai kelompok kepentingan termasuk masyarakat di sejumlah desa yang terdampak dengan pengembangan megaproyek tersebut.

“Kami berharap dengan sosialisasi, seluruh komponen masyarakat, termasuk di desa-desa mengetahui dan memahami dengan jelas dan pasti tentang rencana kerja pengembangan Ladang Gas Blok Masela,” katanya.

Pihaknya juga, tandas Nico sudah mempertimbangkan untuk melakukan sosialisasi kepada pemerintah dan masyarakat pada beberapa desa di kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), sebagai wilayah terdekat dan terdampak proyek strategis nasional tersebut.

“Banyak masukan termasuk dari Bupati MBD, Benjamin Noah yang menginginkan sosialisasi dilakukan di kabupaten tersebut. Hal ini akan dibicarakan dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) untuk diputuskan bersama,” katanya.

Sosialisasi di Kepulauan Tanimbar yang merupakan lokasi utama pembangunan kilang darat gas alam cair (liquefied natural gas – LNG) akan dilakukan di Saumlaki, pada Kamis (8/8), dan dilanjutkan dengan konsultasi publik ke masyarakat di sejumlah desa di kabupaten tersebut hingga 16 Agustus 2019.

Niko menambahkan rencana pengembangan proyek LNG Abadi terdiri dari beberapa fasilitas utama beserta potensi dampaknya yakni pembangunan dan pengoperasian fasilitas sumur gas bawah laut (Subsea Umbilicals, Risers and Flowlines-SURF) di lepas pantai Arafura.

Fasilitas Pengolahan (Floating Production, Storage and Offloading Facilities – FPSO) di lepas pantai Arafura atau, pipa gas bawah laut (Gas Export Pipeline-GEP) dari FPSO ke fasilitas penerima gas di darat (Gas Receiving Facility-GRF) serta fasilitas Kilang OLNG (Onshore Liquefied Natural Gas) di darat.

Nico juga menjelaskan gambaran umum skema proyek LNG Abadi Blok Masela yakni pertama-tama, pengembangan dilakukan dengan membuat fasilitas sumur pemboran bawah laut dan fasilitas SURF yaitu mengumpulkan gas dari sumur-sumur produksi gas alam di dasar laut pada kedalaman kira-kira 600 meter dari permukaan laut.

Dari sumur pemboran bawah laut, gas alam tersebut akan disalurkan melewati fasilitas SURF ke fasilitas Pengolahan Lepas Pantai (FPSO) di mana dalam fasilitas ini, gas dan kandungan kondensat akan dipisahkan.

Selanjutnya gas kering sebagai hasil pemisahan tersebut akan dialirkan ke Kilang LNG darat melalui pipa sepanjang kira-kira 175 kilometer dan melewati palung sedalam 1.600 meter di bawah laut.

Dalam fasilitas kilang LNG berkapasitas 9,5 juta ton LNG per tahun ini, gas akan diolah lagi melalui pendinginan dengan suhu sekitar minus 160 derajat Celsius agar menjadi gas alam cair atau LNG.

Ladang Abadi Blok Masela akan menelan total biaya pengembangan lapangan mencapai 18,5 miliar hingga 19,8 miliar dollar AS dan menyerap ribuan tenaga kerja baik saat konstruksi maupun produksi “onstream”.

Pada saat pembangunan dapat menyerap 30.000 tenaga kerja langsung maupun pendukung dan saat beroperasi akan menyerap tenaga kerja antara 4.000 sampai 7.000 orang termasuk pembangunan industri petrokimia.

Pengembangan ladang Abadi Blok Masela merupakan investasi asing terbesar sejak 1968 dan simbol pembangunan di Indonesia Timur yang berskala global setelah Freeport Indonesia.

Jumlah output gas alam di Lapangan Abadi sebesar 10,5 juta ton per tahun, mencakup sekitar 9,5 juta ton gas alam cair/LNG per tahun, dan memasok penyediaan gas untuk lokal melalui jalur pipa.

Untuk kondensatnya, mencapai sekitar 35.000 barel kondensat per hari. SKK sendiri menargetkan Blok Masela akan mulai produksi pada 2027.

Inpex saat ini terlibat di kira-kira 70 proyek migas di lebih dari 20 negara termasuk Indonesia, Australia, Kazakhstan dan Uni Emirat Arab. Di Indonesia, Inpex telah hadir sejak tahun 1966 melalui Kontrak Kerja Sama (KKS) dengan Pemerintah Indonesia dibawah supervisi SKK SKK Migas.

Saat ini, Inpex berpartisipasi dalam 5 blok Migas yang mencakup kegiatan eksplorasi, pengembangan dan produksi, termasuk menjadi operator di Blok Masela yang terletak di lepas pantai, yaitu Laut Arafura arah Barat Daya kota Saumlaki, KKT.

Sumber : Tribun Maluku

Inpex Butuh Dua Tahun Sosialisasi Pengembangan Blok Masela
 

Artikel Terkait

Link Website

BPMD Facebook

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday9
mod_vvisit_counterYesterday204
mod_vvisit_counterThis week1149
mod_vvisit_counterThis month3268
mod_vvisit_counterAll955870